Senin, 31 Januari 2011

KKG BERMUTU ....... Hambatan dan Tantangan

         Dalam pelaksanaan program apapun yang bertujuan peningkatan dan perubahan paradigma baru tentu tidaklah semulus yang diharapkan. Seperti program BERMUTU yang merupakan program peningkatan kualitas pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru. Kegiatan yang dilakukan dalam kelompok kerja adalah upaya peningkatan kompetensi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas profesionalnya.
         Anda para guru profesional ternyata banyak sekali tugas yang harus dilakukan. Berikut adalah rincian kegiatan guru, mungkin dapat difahami sebagai self assessment agar upaya peningkatan kompetensi sesuai dengan kebutuhan kompetensi mana yang masih harus ditingkatkan. Berikut adalah  Rincian kegiatan guru :

1. menyusun kurikulum pembelajaran pada satuan pendidikan
2. menyusun silabus pembelajaran 
3. menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
4. melaksanakan kegiatan pembelajaran
5. menyusun alat ukur/soal sesuai mata pelajaran
6. menilai dan mengevaluasi proses dan hasil belajar pada mata pelajaran di kelasnya (atau yang diampunya)
7. menganalisis hasil penilaian pembelajaran
8. melaksanakan pembelajaran/perbaikan dan pengayaan dengan memanfaatkan hasil penilaiaan dan evaluasi
9. melaksanakan bimbingan dan konseling di kelas yang menjadi tanggung jawabnya
10. menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar tingkat sekolah dan nasional
11. membimbing guru pemula dalam program induksi
12. melaksanakan pengembangan diri
13. melaksanakan publikasi ilmiah
14. membuat karya inovatif

Karena itu kegiatan dan tagihan dalam kegiatan KKG mengarah pada  pelaksanan tugas di atas : 
1. Kurikulum
2. Silabus
3. Peta Kompetensi
4. Kajian Kritis
5. Kisi-Kisi dan Bank Soal
6. PTK
7. Laporan Studi Visit
8. Jurnal Pembelajaran

Namun ternyata banyak sekali hambatan dan tantangan untuk meningkatkan kompetensi guru, baik internal maupun eksternal. Tantangan internal seperti motivasi kehadiran dan keterlibatan  dalam kegiatan. Hambatan eksternal seperti penyediaan nara sumber yang kompeten , dan lain sebagaainya. Seperti keluhan salah satu guru yang mengikuti KKG bermutu berikut ini, semoga menjadi bahan evaluasi kita bersama, dan ini hanyalah sebagian kecil dari ribuan guru yang terlibat daalam kegiatan ini.

Assalamualaikum Yang saya hormati, Ibu Masruroh Sekedar numpang lewat. Dari posting yang Anda terbitkan, saya ingin bertanya sebenarnya tujuan utama dari KKG bermutu itu apa sih? Apakah hanya membuat PTK? Lalu muncul lagi pertanyaan saya, efektifkah PTK diutamakan dalam KKG Bermutu? Dari yang sudah saya alami selama mengikuti pertemuan KKG, sekedar info, banyak yang kesulitan mambuat PTK. Kesulitan itu bukan dari sisi teknis, tapi psikologis. Mereka, terutama yang guru-guru tua, sudah tidak mampu lagi berfikir teoritis-akademis seperti yang diharapkan. Pikiran mereka sudah tidak lagi terfokus masalah pekerjaan, tapi juga keluarga dan masih banyak lagi. Intinya mereka sungkan dan emoh untuk melaksanakan program Bermutu. Bagi mereka, KKG Bermutu menjadi beban dalam pekerjaannya. Kalau pikiran terkuras untuk mengejar target KKG Bermutu, lalu kapan mereka mau fokus ngajar? Justru proses pembelajaran akan terganggu. Efeknya ternyata luas. Guru-guru yang non PNS yang masih muda pun ikut ketiban sial. Mereka disuruh membuatkan PTK...!! Pokoknya terima beres. Lalu apa artinya KKG Bermutu jika seperti ini keadaannya?? Seperti nasib yang saya alami, saya cuma wiyata bakti, karena bisa ngetik dan nge-print, ya alhasil jadi target sasaran disuruh membuatkan PTK. Bagi saya tidak masalah, tapi tanggung jawab mereka sebagai Guru PNS mana? Akhirnya saya berfikir, lebih baik tidak perlu ada KKG Bermutu, tapi perbaiki dulu mental masing-masing guru. Itu lebih penting. Maaf, terlalu panjang... Terima KAsih Nah tentunya dari kasus di atas tidak bisa disimpulkan kegiatan KKG membebani guru, namun perlunya pemahaman bahwa belajar untuk menjadi guru profesional memang membutuhkan waktu dan proses. Namun patut disayangkan apabila guru yang notabene juga sebagai agen perubahan kok tidak mau berubah....... Srtifikasi yang memberikan tunjangan profesi sebesar satu kali gaji ternyata menuntut adanya peningkatan kinerja guru menjadi  profesional. Hal ini wajar karena besarnya dana tunjangan profesi yang harus disediakan......

12 komentar:

cholist mengatakan...

Yapz, kalo orientasi hanya terpaku pada hasil dalam waktu yg relatif singkat dan terburu2 maka bagi 'sebagian' org akan mengambil jalan pintas tanpa melalui tahap tahap yg runtut.
Namun jika kita dapat menikmati proses tanpa tergesa2 menyuguhkan hasil, sabar dan tlaten mungkin rasa malas itu bisa hilang bahkan asik dan terus berexplorasi untuk mengembangkan diri..
Semoga.

keranjang artikel mengatakan...

Kita memafhumi, tunjangan sertifikasi semestinya mampu menunjang tugas kewajiban para guru. Jika tidak, pemberi tunjangan (pemerintah) akan seperti peribahasa: tuak terbeli, tunjang hilang.

Yassir mengatakan...

Assalau'alaikum
Yang saya hormati, Ibu Masruroh

Numpang lewat lagi, Bu.
KKG BERMUTU memang seharusnya menjadi sarana untuk peningkatan profesionalisme guru. Namun sepertinya belum sepenuhnya terwujud, hanya sebatas idealisme. Saya hanya berprediksi, untuk saat-saat sekarang ini rasanya sulit mewujudkan apa yang diharapkan dari program BERMUTU. Sebagian besar guru-guru yang mengikuti program ini adalah guru-guru angkatan 75-80 an. Saya memahami bahwa semakin tua usia semakin berkurang daya produksinya. Tubuh dan pikiran gampang lelah. So, untuk melengkapi berbagai macam tagihan program BERMUTU memang cukup menguras tenaga dan pikiran.
Dan satu hal yang menjadi hambatan : pensiun. Mereka ada yang berkata "Ah...4 tahun lagi aku sdh pensiun, buat apa mikirin ky gitu?"
Jika dipikir memang benar, wong sudah mendekati masa purna tugas, ngapain dibikin repot.
Kemudian tentang guru bersertifikasi, tidak menjamin dia adalah guru profesional, seperti yang Ibu polling-kan beberapa waktu lalu. Banyak fakta di lapangan menunjukkan, mereka yg sdh mandapat tunjangan 1 kali gaji, ga ada bedanya dengan saat belum mendapat tunjangan. Mengajar ya seperti biasanya. Bahkan bikin proposal, makalah, kajian kritis aja plonga-plongo. He..he.. saya jadi berfikir : daripada buang-buang anggaran, lebih baik buat ngangkat mereka yang belum pegawai seperti saya ini. Ha...ha....ha...

Maaf, panjang banget.
Terimakasih.

Dzakiron mengatakan...

Tak mudah memang merubah pola pikir, apalagi untuk hal yang begitu lama mengakar. Tetapi, dengan segala kekurangannya, kegiatan tersebut semestinya bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Meski mungkin belum sesuai harapan, gaungnya bukan tak terasa sama sekali. Adalah menggembirakan melihat teman2 guru kelas berkutat dgn aneka tugas dan lembaran2 referensi. Jujur sj,sbg guru PAI,sy iri.sangat iri.berkesemptn mendulang ilmu langsung dari sumbernya adl kesemptn langka.gratis pula.dpt bbrp sertifikat lg.meski sy pun tetap bs ikut mempelajari aneka materinya,ttp ada "sesuatu yg hilang".buat tmn2 pengurus KKG PAI Kabupaten Pekalongan,kalaupun tulisan ini bs terbaca,AYO BANGUN!!! Jgn tenggelam dlm euforia mapel PAI akan di UN-kan tp bagaimana menyikapi dan menindaklanjutinya itu mgkn lbh penting.tnp dorongan program yg "mengigit",KKG PAI Kecamatan bisa spt anak ayam yg mati di lumbung padi.

M Mursyid PW mengatakan...

Wew, rupanya ada materi diskusi gayeng di sini, hem...h!
Saya tidak akan panjang lebar berkomentar, BERUNTUNGLAH GURU YANG DAPAT MENGAMBIL MANFAAT DARI PROGRAM 'BERMUTU'.
Masalah kinerja guru yang telah bersertifikasi tidak ada bedanya dengan sebelumnya, ini berkenaan dengan kultur kerja. Untuk mengubah kultur perlu proses panjang. Kegiatan di Program BERMUTU merupakan bagian dari proses itu.

Yassir mengatakan...

Jurnal Fortuna, mengapa website nya hilang...???

Masruroh mengatakan...

@All : Trims atas komentar n kepeduliannya.....
Setuju banget pak Mursyid.... memang pengembangan keprofesian adalah bagian dr proses yg hrs kita lakukan scr berkelanjutan sbg pembelajar sepanjang hayat..... beruntung kt ikuti Bermutu shg tahu apa yg menjd tuntutan guru profesional.....

@Yassir : Maaf sdg dalam proses perbaikan....

Toto Sugianto mengatakan...

Sekedar berbagi pengalaman Bu,
saya pengurus KKG di Kab. Subang, memang sulit difahami, terdapat kesenjangan yang begitu lebar antara tujuan yang ingin dicapai oleh program BERMUTU dengan realita di lapangan. Beberapa catatan yang saya dapatkan selama melaksanakan level 1:
- Pihak UPT Pendidikan tidak begitu respek
- Para Kepsek juga terkesan bersikap biasa-biasa saja
- Para guru peserta kalaupun hadir, sulit untuk diajak terlibaat aktif dalam skenario BBM yang telah dipersiapkan baik oleh PCT/DCT/Pemandu
- Para guru peserta lebih suka mendengarkan ceramah tentang informasi baru terutama sertifikasi

Jika keadaannya demikian, mengupayakan tagihan tugas terstruktur yang diberikan sangatlah sulit, kalaupun kemudian ada, setelah ditelusuri ternyata pengerjaannya numpuk diborong guru sukwan di sekolah masing-masing.
Yang kemudian lebih parah lagi, pada part ke 2 (9-16) mereka lebih berorientasi membuat laporan PTK fiktif bukan pelaksanaan PTK yang dilaporkan.
Dilihat secara fisik, hasil belajar 16 pertemuan produkya sangat bagus / minimal ada. Tapi proses pengadaannya tersebut sangat jauh dari apa yang diharapkan oleh Program BERMUTU.
demikian di daerah kami, mudah2an tidak di daerah lain.
Yang lebih memprihatinkan lagi pihak Dinas Pendidikan / Bina Program seolah menutup mata dengan kondisi ini malah memblowup kondisi ini dengan sangat kontradiktif serta kami di setiap kelompok pelaksana ditekan seolah-olah kenyataan berjalan dengan sangat baik.

Sungguh ..... mungkin ini lebih kejam daripada ketika kita dijajah bangsa asing .....

KKG MI Bokasikanser mengatakan...

kalo dilihat KKG di wilayah KANKEMENAG sngguh sangat riskan, kami harus ada sebagai suatu wadah, tapi daya support dari atas sungguh sangat minim.
ada solusi /??????

Masruroh mengatakan...

@KKG MI Bokasikanser : Silakan pelajari 'pedomn pengelolaan KKG/MGMP' juga ttg 'Pengelolaan PKB'yang dikeluarkan Mendiknas (silakan lihat di laman 'download' di blog ini). Ada beberapa sumber dana yang dapat diberdayakan. Yang perlu difahami adalah bahwa KKG sudah menjadi kebutuhan guru untuk melakukan Pengembangan keprofesian nya secara berkelanjutan.

agus royo mengatakan...

salam bu.
sekedar curhat, untuk KKG di bawah naungan DINDIK sih enak , dapet support dana untuk operasional kegiatan KKG.
lha bagaimana untuk yang di bawah naungan KEMENAG,??????
sama sekali Gak diurusi wong utk LCD saja kami harus sewa, nasib.....
tapi biar terseok-seok kami jg semangat,,,, memajukan kemampuan personil gurunya , ada masukan mungkin ????

Masruroh mengatakan...

@agus Royo: Semoga tetap semanagat! demi profesionalitas KKG adalah tempat yg tepat untuk membuktikan bahwa guru mampu melakukan pengembangan keprofesian secara berkelanjutan........ salah satu fungsi pemanfaatan tunjangan profesi...