Selasa, 04 Mei 2010

Pendidikan Karakter

      Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2010 ini mengambil tema ' Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa".  Tema ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang menyebutkan ' berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab'.  

     Ya simaklah betapa mulia nya kalimat tersebut. Namun dirasakan sistem  pendidikan di Indonesia menghasilkan manusia yang kurang berkarakter. Seperti pendapat I Ketut Sumarta, seorang yang telah lama bergelut dalam dunia pendidikan. Dalam bukunya yang berjudul Pendidikan yang Memekarkan Rasa, ia mengatakan: “Pendidikan nasional kita cenderung hanya menonjolkan pembentukan kecerdasan berpikir dan menepikan penempatan kecerdasan rasa, kecerdasan budi, bahkan kecerdasan batin. Dari sini lahirlah manusia manusia yang berotak pintar, manusia berprestasi secara kuantitatif akademik, namun tiada berkecerdasan budi sekaligus sangat berkegantungan, tidak merdeka mandiri.” Kutipan di atas menunjukkan bahwa telah terjadi ketidakpuasan atau cenderung terjadinya kegagalan dalam dunia pendidikan dalam rangka membentuk manusia dewasa dan berwatak mandiri. Kegagalan membentuk manusia dewasa dan berwatak mandiri ini kemudian diatasi atau diperkecil dengan melakukan program pendidikan karakter. 
       Kurang berhasilnya sistem pendidikan membentuk sumberdaya manusia dengan karakter yang tangguh, berbudi pekerti luhur, bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri, terjadi hampir di semua lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta. Lebih jauh supaya nation character building sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia terkesan tidak berjalan seperti yang diinginkan. Lembaga-lembaga pendidikan baik yang bersifat umum maupun yang berlandaskan nilai-nilai agama berupaya sedapat mungkin menanamkan dan mengembangkan karakter siswanya sesuai dengan nilai-nilai universal yang berlaku.
       Dalam pendidikan model Pesantren yang telah berkembang cukup lama di Indonesia, pendidikan karakter tampak sangat kuat dengan out put yang memiliki kemandirian dan akhlakul karimah. Namun perkembangan saat ini menuntut output yang lebih dan tangguh  yang memiliki jiwa enterprenership untuk mampu survived di era global ini.
           Dan memang sampai saat ini keluarga memegang peran utama dalam pendidikan karakter. Dan tentu saja peran sekolah/satuan pendidikan sangat diharapkan dapat lebih memperkuatnya.
      Nah bagaimana dengan satuan pendidikan yang ada di wilayah kita? Bagaimana Bapak/Ibu Kepala Sekolah, program apa yang bapak ibu dan warga sekolah  buat yang termasuk dalam Pendidikan Karakter... Sudah sejauh mana pelaksanaan dan pencapaiannya..... yang jelas dalam program pendidikan Karakter ini memerlukan dukungan seluruh warga sekolah, semua perlu menjadi teladan  bagi peserta didik... 
Semoga  tema kali ini tidak hanya menjadi slogan namun dapat diaplikasikan dan diimplementasikan .........

Berikut sambutan Mendiknas dalam hardiknas tahun 2010 ini dapat diklik di SINI.

4 komentar:

Kusyardi mengatakan...

Pendidikan Karakter? Warisan Termahal Mendiknas Pertama Republik Indonesia: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Jangan lagi diabaikan!

Masruroh mengatakan...

Betul pak Kus... nah tinggal implementasinya agar menjadi budaya sekolah yg didukung seluruh warga sekolah...good luck

mujibelrahman mengatakan...

Saya teringat dengan tokoh Hellen Keller, betapa sosok -terpaksa saya menggunakan kata- buta dan tuli, gelap dan hening hidupnya, mampu menjadi sosok yang berkarakter dengan mencapai puncak prestasi tertinggi akademik. Jelas untuk menyimpang dari moralitas, Hellen tak kan mungkin melakukan itu. Betapa saya malu ketika dibandingkan dengan dia yang saya jelas jauh lebih normal dari dia. Pintar dan berbudi serta menginspirasi banyak orang, itulah Hellen Keller. Di Indonesia, di samping sosok Ki Hajar Dewantara yang disebutkan Pak Kusyardi, Tokoh sekarang yang Pak Kus pernah diskusikan dengan saya Prof. Dr. H. Arief Rahman, M. Pd. (maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan nama dan gelar, meskipun dia layak menyandang gelar tersebut). Sosok Pak Arief tidak masuk kelas dan tidak mengajar, muridnya rindu dan merasa rugi. Bandingkan dengan saya, ada MGMP, saya -terpaksa- memberi tugas kepada murid, mereka malah bersorak gembira. Semoga saya dan para guru dapat menjadi teladan, dan dirindukan muridnya, serta menginspirasi muridnya, sebagaimana yang telah di lakukan oleh Pak Arief Rahman. Semoga!

Masruroh mengatakan...

Ya pak Mujib para guru harus mampu menjadi inspirasi bagi siswanya.... karena yg akan mereka hadapi di masanya membutuhkan kekuatan mental dan daya saing yg kompetitif....